0

Penalaran Umum (Logika)

Posted by Alinda on 1:33 AM in
Penalaran umum merupakan salah satu jenis tes yang menggunakan dasar berpikir secara logika. Dalam tes ini terdapat pernyataan benar, pernyataan salah, dan bagaimana menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan tersebut. Kali ini saya akan menjelaskan sedikit materi penalaran umum yang biasa digunakan pada soal-soal TPS Verba.

A. Pernyataan
Pernyataan disebut juga implikasi. Ada dua jenis pernyataan, yaitu benar dan salah. Penentuan benar atau salahnya berdasarkan kenyataan aslinya.
Contoh:
Ayam adalah salah satu jenis unggas. (benar)
Kerbau adalah jenis hewan karnivora. (salah)

Negasi atau ingkaran merupakan lawan kata dari pernyataan semula. Biasanya ditandai dengan  kata tidak, bukan.
Contoh: 
p= Kami belajar.
~p= Kami tidak belajar.
 
B. Pernyataan Majemuk
Pernyataan majemuk adalah kalimat yang dibentuk oleh beberapa pernyataan, bisa dua atau lebih. Pernyataan majemuk ditandai dengan kata jika..., maka...,...dan ...., ....atau....
Terdapat empat istilah dalam pernyataan majemuk.
1. Disjungsi
Disjungsi ditandai dengan kata hubung atau. Secara matematis ditulis p v q (p atau q).
Contoh:
p= Tina suka warna biru.
q= Tina suka warna putih.
p v q = Tina suka warna biru atau putih. 

Bentuk ingkaran disjungsi sebagai berikut.
~(p v q)= ~p ^ ~q
Contoh:
p v q = Tina suka warna biru atau putih. 
~p ^ ~q = Tina tidak suka warna biru dan putih.

2. Konjungsi
Konjungsi ditandai dengan kata hubung dan. Secara matematis ditulis p ^ q (p dan q).
Contoh: 
p= Lala membeli boneka.
q= Lala membeli sepatu.
p ^ q = Lala membeli boneka dan sepatu.

Bentuk ingkaran konjungsi adalah sebagai berikut.
~(p ^ q)= ~p v ~q
Contoh: 
p ^ q = Lala membeli boneka dan sepatu.
~p v ~q= Lala tidak membeli boneka atau sepatu.

3. Implikasi
Implikasi adalah jenis pernyataan sebab akibat yang ditandai dengan kata jika..., maka....Secara matematis ditulis p => q.
p adalah sebab dan q adalah akibat.
Jenis implikasi ada tiga macam.
a. Konvers/bentuk lain p => q adalah q => p.
b. Invers/kebalikan p => q  adalah ~p => ~q 
c. Kontraposisi p => q  adalah ~q => ~p

Bentuk ingkaran dari p => q ekuivalen dengan p ^ ~q
Contoh: 
p= Yeni libur sekolah.
q= Yeni pergi ke Madiun.
~(p => q) = p ^ ~q
p ^ ~q = Yeni libur sekolah dan tidak pergi ke Madiun.

4. Biimplikasi
Biimplikasi adalah jenis pernyataan majemuk yang menggunakan kata hubung "jika dan hanya jika". Secara matematis dilambangkan p <-> q.
Contoh:
p= Koko membeli mobil baru.
q= Koko memiliki pekerjaan baru.
 p <-> q = Koko membeli mobil baru jika dan hanya jika memiliki pekerjaan baru.

C. Penarikan Simpulan
Penarikan simpulan bisa menggunakan metode silogisme, modus ponens, dan modus tolens.
1. Silogisme
Silogisme merupakan penarikan simpulan dari dua pernyataan implikasi. Aturan silogisme adalah sebagai berikut.
Premis 1: p => q
Premis 2: q => r
Simpulan: p => r
(pernyataan yang sama dicoret)

Perhatikan contoh dalam kalimat berikut.
P1: Jika warga menjaga kebersihan (p) maka warga sehat (q)
P2: Jika warga sehat (q) maka pemerintah bangga (r).
Simpulan: Jika warga menjaga kebersihan maka pemerintah bangga.

2. Modus Ponens
Aturan modus ponens adalah sebagai berikut.
Premis 1: p => q
Premis 2: p
Simpulan: q

Contoh:
P1: Jika hari Senin libur (p), saya pergi ke rumah nenek (q).
P2: Hari ini libur (p).
Simpulan: Saya pergi ke rumah nenek
(Bentuk p harus sama)

3. Modus Tolens
Aturan modus tolens adalah sebagai berikut.
Premis 1: p => q
Premis 2: ~q
Simpulan: ~p
Contoh: 
P1: Jika hari Senin libur (p), saya pergi ke rumah nenek (q).
P2: Saya tidak pergi ke rumah nenek (~q).
Simpulan: Hari Senin tidak libur.

D. Ekuivalensi Logika
Suatu pernyataan dikatakan ekuivalen apabila dua pernyataan tersebut memiliki nilai kebenaran yang sama. Ada banyak hukum ekuivalen, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
p => q ≡ ~p v q
p => q ≡ ~q => ~p
p v q ≡ ~p => q

Hukum De Morgan
~(p ^ q) ≡ ~p v ~q
~ (p v q) ≡ ~p ^ ~q

Contoh Soal

P1: Jika pohon diberi pupuk maka pohon tersebut akan berbuah banyak.

P2: Jika pohon berbuah banyak maka penjualan buah akan meningkat.

P3: Penjualan buah mengalami penurunan.

Simpulan yang tepat adalah...

a. Penjualan buah menurun.

b. Penjualan buah meningkat.

c. Pohon tidak diberi pupuk.

d. Pohon diberi pupuk.

e. Pembeli tidak membeli buah apapun.

Pembahasan:

Langkah 1: gunakan metode silogisme

 p => q       : Jika pohon diberi pupuk maka pohon tersebut akan berbuah banyak.

P2: q => r        : Jika pohon berbuah banyak maka penjualan buah akan meningkat.

S1: p => r          : Jika pohon diberi pupuk maka penjualan buah akan meningkat.

Langkah 2: gunakan metode tolens

S1: p => r          : Jika pohon diberi pupuk maka penjualan buah akan meningkat.

P3: ~r             : Penjualan buah mengalami penurunan

S2: ~p               : Pohon tidak diberi pupuk

Jawaban: C

Demikian pembahasan materi penalaran umum. Semoga bermanfaat ya...


|
0

Kalimat Efektif

Posted by Alinda on 10:49 PM in
Kalimat efektif adalah salah satu jenis kalimat yang baku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kalimat efektif disebut juga kalimatbaku. Ciri-ciri kalimat efektif adalah sebagai berikut.
1. Memiliki subjek dan predikat
Subjek dan predikat merupakan unsur penting dalam kalimat. Jika kalimat tidak memiliki salah satunya, kalimat tersebut tidak efektif.
Contoh: Pada artikel menjelaskan kenaikan harga sembako.
                         K                   P                   O
Kalimat tersebut tidak efektif karena tidak memiliki subjek. Agar efektif, kita dapat menghilangkan kata pada sehingga kata artikel menjadi subjek.

2. Ejaan sesuai PUEBI
Penggunaan tanda baca, huruf kapital, huruf miring, dan juga angka harus sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Contoh: Kami bangun kesiangan, sehingga terlambat masuk sekolah. (tidak efektif)
Kami bangun kesiangan sehingga terlambat masuk sekolah. (efektif)

3.Menggunakan kata baku
Kata baku adalah kata yang penulisannya sudah benar, sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Contoh:
Tidak Baku                              Baku
lembab                                     lembap
standarisasi                            standardisasi
kwitansi                                   kuitansi
aksesoris                                aksesori
ekstrim                                    ekstrem

4. Kalimat hemat dan logis
Kalimat efektif tidak bertele-tele dan sesuai akal/logika.
Contoh:
a. Mukanya agak kemerah-merahan. (tidak baku)
Mukanya kemerah-merahan. (baku)
b. Bagi yang membawa HP harap dimatikan. (tidak baku)
HP harap dimatikan. (baku)

5. Imbuhan paralel
Pada kalimat majemuk yang mengandung rincian, imbuhan yang digunakan harus paralel/sejajar.
Contoh:
Maryam hobi menari dan bernyanyi. (tidak baku).
Maryam hobi menari dan menyanyi. (baku)
Imbuhan yang digunakan sama-sama imbuhan me-.

Demikian materi kalimat efektif. Semoga bermanfaat.

|
0

Jenis Kalimat Bagian 2

Posted by Alinda on 3:32 PM in
Pada postingan sebelumnya kita telah membahas tiga jenis kalimat. Sekarang kita lanjutkan materi sebelumnya ya....

A. Berdasarkan Jenis Kata Predikat
1. Kalimat Verbal
Kalimat verbal menggunakan predikat berjenis kata kerja.
Contoh: Kakak membeli bakso.
2. Kalimat Nominal
Kalimat yang menggunakan predikat selain kata kerja disebut kalimat nominal
Contoh: Dia seorang peragawati. (P=kata benda)
               Ayamku sepuluh ekor. (P=kata bilangan)
               Dia sangat baik. (P=kata sifat)

B. Berdasarkan Jumlah Unsur Kalimat
1. Kalimat Inti
Kalimat inti terdiri atas dua unsur, yaitu subjek dan predikat, boleh juga ada objek. Namun, setiap unsur hanya terdiri atas satu kata.
Ciri-ciri:
a. Terdiri atas inti subjek dan predikat
b. Bukan kalimat inversi (urutan normal SP)
c. Kalimat berintonasi normal (kalimat berita)
Cara menentukan kalimat inti, yaitu dengan menghilangkan unsur keterangan yang biasanya ditandai dengan kata hubung atau kata depan.
Contoh: 
1) Mereka yang mendaftar lomba akan mengikuti seleksi besok pagi.
Kalimat inti: Mereka mengikuti seleksi.
                            S              P             O
2) Wanita yang  akan pergi ke bandara telah berangkat tadi pagi.
Kalimat inti: Wanita berangkat.
                            S             P

2. Kalimat Transformasi
Kalimat transformasi adalah perluasan dari kalimat inti. Ada beberapa cara mengembangkan kalimat inti.
a. Mengubah letak kalimat.
Contoh: Kami berjualan di pasar.
              Berjualan kami di pasar. (kalimat inversi)
b. Menambah unsur kalimat.
Contoh: Temanku bermain.
               Temanku bermain layang-layang.
c. Mengubah intonasi kalimat.
Contoh: Jeni pergi.
               Jeni pergi?
 d. Menjadikan kalimat majemuk
 Contoh: Adik tertawa.
               Adik tertawa ketika melihatku terpeleset.

C. Berdasarkan Jumlah Klausa
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal memiliki satu klausa.
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk memiliki lebih dari satu klausa.

Pembahasan tentang kalimat tunggal dan majemuk lebih lengkapnya, silakan teman-teman baca di postingan saya sebelumnya di link berikut.

Terima kasih..

|
0

Jenis Kalimat Bagian 1

Posted by Alinda on 8:31 PM in
Berdasarkan KBBI, kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri atas klausa. Ciri-ciri kalimat: 
1. minimal terdiri atas subjek dan predikat
2. di awali huruf kapital 
3. di akhiri tanda baca sehingga memiliki intonasi final

A. Berdasarkan Kelengkapan Unsur
Jenis kalimat berdasarkan kelengkapan unsurnya adalah sebagai berikut.
1. Kalimat Minor
Kalimat minor memiliki unsur yang tidak lengkap. Biasanya hanya satu atau dua kata sehingga tidak termasuk kalimat baku.
Contoh: Pergi! (tidak ada subjek)
              Beni ke Yogyakarta. (tidak ada predikat)
2. Kalimat Mayor
Kalimat mayor memiliki unsur yang lengkap. Minimal terdiri atas subjek dan predikat.
Contoh: Alysa akan membeli kado untuk ayahnya.

B. Berdasarkan Letak Predikat
Berdasarkan letak predikatnya, kalimat dibedakan menjadi dua macam.
1. Kalimat Normal
Letak predikat pada kalimat ini seperti pada umumnya, yaitu setelah subjek.
Contoh: Temanku pergi ke Medan.
2. Kalimat Inversi
Letak predikat pada kalimat ini berada di awal kalimat/sebelum subjek.
Contoh: Pulang mereka ke kampung halamannya.

C. Berdasarkan Peran Subjek
Jenis kalimat ini juga ada dua macam.
1. Kalimat Aktif
Ciri-ciri kalimat aktif:
a. subjek melakukan pekerjaan.
b. predikat berawalan me-, ber-
Kalimat aktif dibagi menjadi dua, yaitu
a. Aktif Transitif
Disebut kalimat aktif transitif jika kalimat memiliki objek. Ciri-cirinya, yaitu (1) kalimat dapat dipasifkan (2) predikat berawalan me-.
Contoh: Ambar memainkan bola.
                     S              P            O
b. Aktif Intransitif
Kalimat aktif intransitif tidak memiliki objek. Ciri-cirinya, yaitu (1) kalimat tidak dapat dipasifkan, (1) predikat kebanyakan berimbuhan ber-
Contoh: Ambar bermain bola.
                    S            P        Pelengkap
2. Kalimat Pasif
Ciri-ciri kalimat pasif:
a. subjek dikenai pekerjaan
b. predikat berimbuhan di-, ke-an, ter-
Kaidah memasifkan kalimat:
a. Jika subjek orang pertama dan kedua
Contoh: Aktif: Saya membeli boneka.
              Pasif: Boneka saya beli.
b. Jika subjek orang ketiga
Contoh: Aktif: Dina membeli bonaka.
               Pasif: Boneka dibeli Dina.

Demikian jenis-jenis kalimat bagian 1. Masih ada kelanjutannya ya....di bagian 2. See you :)


|
0

Kata Hubung (Konjungsi)

Posted by Alinda on 8:53 AM in
Konjungsi adalah kata yang digunakan untuk menghubungkan klausa atau kalimat sehingga membentuk kalimat atau paragraf yang padu. Konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan klausa disebut konjungsi intrakalimat, sedangkan konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan kalimat disebut konjungsi antarkalimat. Lebih lengkapnya, konjungsi dibedakan menjadi tiga macam.
1. Konjungsi Intrakalimat
Konjungsi intrakalimat digunakan untuk menghubungkan klausa satu dengan yang lain sehingga membentuk kalimat majemuk.
Konjungsi ini letaknya bisa di awal kalimat atau di tengah kalimat.
Contoh: 
Sejak kecil, Ani suka menyanyi.
Herman sedang belajar membaca dan menulis.

Untuk mempelajari macam-macam konjungsi intrakalimat, teman-teman bisa mempelajari materi pada kalimat majemuk.

2. Konjungsi Antarkalimat
Konjungsi antarkalimat digunakan untuk menghubungkan kalimat dalam sebuah paragraf. Letak konjungsi ini ada di awal kalimat dan selalu diikuti tanda koma.
Contoh:
Jadi, .......
Dengan demikian, ........
Akibatnya, .........
Namun, .........
Akan tetapi, ......
Setelah itu, ........

3. Konjungsi Korelatif
Konjungsi korelatif merupakan konjungsi yang saling berhubungan. Masing-masing konjungsi memiliki pasangan yang tidak dapat ditukar. Jika ditukar, kalimat tersebut menjadi tidak efektif.
Contoh:
tidak ........, tetapi .......
bukan ......., melainkan .......
jangankan ......, ...... pun .......
baik ........, maupun .........
entah ......, entah .........

Penerapan dalam kalimat.
a. Aku tidak suka makanan manis baik cokelat, maupun kue bolu. (baku)
b. Dia bukan Amy, tetapi Emy. (tidak baku, seharusnya tetapi diganti melainkan)

Demikian penjelasan macam-macam konjungsi. Semoga bermanfaat.

|
0

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Posted by Alinda on 8:32 AM in
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dibedakan menjadi dua macam: kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
A.Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal disebut juga kalimat simpleks. Kalimat tunggal terdiri atas satu klausa. Klausa sendiri merupakan bakal kalimat yg susunannya terdiri atas subjek dan predikat.
Contoh: Arya terjatuh dari sepeda.
Kalimat tersebut memiliki sebuah subjek dan predikat sehingga disebut kalimat tunggal.

B. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk disebut juga sebagai kalimat kompleks. Kalimat majemuk memiliki klausa lebih dari satu. Contoh:
klausa 1: kami belajar
klausa 2: kami ingin mendapatkan nilai bagus.
Kedua klausa tersebut dapat dijadikan satu menjadi kalimat majemuk dengan cara menambahkan konjungsi (kata hubung).
Kami belajar karena ingin mendapatkan nilai bagus.

Kalimat majemuk dibagi menjadi tiga macam.
1. Kalimat Majemuk Setara/Koordiatif
Kalimat majemuk setara memiliki klausa yang kedudukannya setara. Konjungsi yang digunakan dalam kalimat ini letaknya selalu di antara dua klausa (di tengah).
Contoh: Dia tidak bisa membaca dan menulis.
Konjungsi yang digunakan dalam kalimat majemuk setara adalah sebagai berikut.
a. Penjumlahan/gabungan: dan, serta
b. Pilihan: atau
c. Penegasan: bahkan, apalagi
d. Lanjutan: lalu, kemudian
e. Pertentangan: sedangkan, tetapi, melainkan
Penulisan konjungsi pada kalimat majemuk setara tidak didahului tanda koma kecuali dan (jika rincian lebih dari dua), sedangkan, tetapi, melainkan.
Contoh:
Ana menangis, bahkan tidak mau makan. (salah)
Ana menangis bahkan tidak mau makan. (benar)
Rara sedang tidur, sedangkan Laila bermain di taman. (benar)

Selain itu, konjungsi pada kalimat majemuk setara bisa diganti dengan tanda titik koma.
Contoh: Rara sedang tidur; Laila bermain di taman.

2. Kalimat Majemuk Bertingkat/Subordinatif
Kedudukan klausa pada kalimat majemuk bertingkat tidak sama. Terdapat dua komponan, yaitu induk kalimat (inti) dan anak kalimat (penjelas). Letak induk kalimat bisa di depan atau di belakang anak kalimat. Perhatikan contoh berikut.
klausa 1: Alya tidak berangkat sekolah. (induk kalimat)
klausa 2: Alya sakit. (anak kalimat)
* Alya tidak berangkat sekolah karena sakit.
* Karena sakit, Alya tidak berangkat sekolah.
Lalu bagaimana cara membedakan induk kalimat dan anak kalimat?
Induk kalimat merupakan inti kalimat yang minimal terdiri atas subjek dan predikat. Anak kalimat merupakan klausa penjelas yang tidak dapat berdiri sendiri. Karena kedudukannya sebagai keterangan, anak kalimat di awali dengan konjungsi. Ketika anak kalimat di depan induk kalimat, jangan lupa menambahkan tanda koma sebelum induk kalimat.

anak kalimat______, induk kalimat______
induk kalimat________ anak kalimat_____

Konjungsi yang digunakan pada kalimat majemuk bertingkat adalah sebagai berikut.
a. waktu: sejak, sebelum, ketika, saat
b. tujuan: agar, supaya, demi, untuk
c. sebab: karena, sebab
d. akibat: sehingga, akibatnya
e. penjelas: yang, bahwa
f. perlawanan: meskipun, walaupun
g. perbandingan: seperti, bagaikan
h. syarat: jika, asalkan

3. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat ini merupakan perpaduan kalimat majemuk setara dan bertingkat. 
Contoh:
Ketika berlibur di Bandung, kami mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu dan Kawah Putih.

Demikian penjelasan kalimat majemuk setara dan bertingkat. Semoga bermanfaat.

|
0

Frasa

Posted by Alinda on 8:12 PM in
Menurut KBBI, frasa adalah gabungan kata yang bersifat nonpredikatif. Maksudnya nonpredikatif adalah salah satu unsurnya tidak menduduki predikat.
Contoh: anak kecil, akan belajar, kakek nenek
Frasa tersebut hanya menduduki satu fungsi kalimat saja. Perhatikan contoh kalimat berikut.
Kami (S) akan menempati (P) rumah baru (O).
Pada kalimat tersebut, unsur kalimat yang berupa gabungan kata adalah akan menempati dan rumah baru. Jadi, kalimat tersebut terdiri atas dua frasa.

Jenis Frasa
A. Frasa Endosentris
Frasa endosentris adalah frasa yang salah satu komponenya memiliki perilaku yang sama. Artinya, salah satu frasa tersebut dapat menggantikan komponen keseluruhan. 
Contoh: Beni sedang makan pisang. 
Komponen membaca dapat diganti dengan frasa sedang membaca tanpa mengubah makna tersebut.
Frasa endosentris dibagi menjadi tiga macam.
1. Frasa Koordinatif
Frasa koordinatif memiliki kedudukan sama. Di antara frasa tersebut dapat disisipi kata dan/atau.
Contoh: kakek nenek
              buta tuli
              senasib sepenanggungan
2. Frasa Subordinatif/Bertingkat
Frasa bertingkat memiliki kedudukan yang tidak sama. Frasa ini terdiri atas inti frasa dan penjelas.
Contoh: telah pergi (inti frasanya pergi)
               sepasang merpati putih (inti frasanya merpati)
Berdasarkan jenis kata pada inti frasa, frasa dibedakan menjadi:
a. Frasa Verba (inti frasa berupa kata kerja)
Contoh: akan datang, sedang tidur
b. Frasa Nomina (inti frasa berupa kata benda)
Contoh: seikat bunga mawar, rumah baru
c. Frasa Adjektiva (inti frasa berupa kata sifat)
Contoh: sangat baik, indah sekali
d. Numeral (inti frasa adalah kata bilangan)
Contoh: dua lusin, dua lembar, rumah ketiga

B. Frasa Eksosentris
Frasa eksosentris adalah frasa yang salah satu komponennya memiliki perilaku yang tidak sama. Frasa ini tidak memiliki unsur pusat/inti frasa. Ada dua jenis:
1. Frasa Direktif
Frasa direktif ditandai dengan adanya preposisi/kata depan. Contoh: di rumah, ke pelabuhan, dari sekolah
2. Frasa Nondirektif
Frasa nondirektif ditandai dengan adanya artikula (si, sang) atau kata lain, seperti para, yang, kaum. Contoh: para wanita, kaum urban.

|
0

Afiks (Imbuhan)

Posted by Alinda on 8:11 PM in
A. Jenis-Jenis Imbuhan
Berdasarkan letaknya dibagi menjadi:
1. Prefiks (awalan): me-, ber-, di-, ter-, pe-, memper-, diper-
2. Infiks (sisipan): -el-, -er-, -em-
3. Sufiks (akhiran): -an, -kan, -i
4. Sufiks (awalan dan akhiran): pe(N)-an, me(N)-kan, per-an, ter-kan, di-kan, memper-kan, memper-i, me(N)-i
Adapula imbuhan asing
1. Dari bahasa Arab: -i, -wi, -ah, -iah
Contoh: duniawi, alami, naluriah, lahiriah
2. Dari bahasa Sanskerta: -man, -wan, -wati
Contoh: budiman, sastrawan, karyawati
3. Dari bahasa Inggris: -isasi, -is, -isme, -if
Contoh: nasionalisasi, nasionalis, nasionalisme, deskriptif

B. Fungsi Imbuhan
1. Membentuk kata benda
Contoh: pe- + baca = pembaca
              per- + dagang + -an= perdagangan
              pe- + jual + -an= penjualan
              ke- + indah + -an= keindahan
2. Membentuk kata kerja
Contoh: me- + payung+ -i= memayungi
               me- + sisir = menyisir
               ber- + damai= berdamai
3. Membentuk kata sifat
Contoh: dunia + -wi = duniawi
              liberal + -is = liberalis
4. Membentuk kata bilangan
Contoh: se- + puluh = sepuluh
               ke- + dua = kedua
5. Membentuk kata keterangan
Contoh: se- + mampu + -nya= semampunya
               se- + lebar-lebar + -nya= selebar-lebarnya

C. Makna Imbuhan
1. Imbuhan me- 
a. melakukan kegiatan: mengajar, menjual, membalas
b. menggunakan alat: mencangkul, membajak, menyisir
c. menuju: menepi, mendarat, melaut
d. membuat seperti kata dasar: menyambal
e. mencari: merumput, mendamar
f. menjadi: menguning, menghitam

Setiap kata dasar yang diawali imbuhan me- jika bertemu kata dasar yang berawalan huruf k, t, s, p dan diikuti huruf vokal (a, i, u, e, o) akan lebur.
Contoh: 
me- + pesona= memesona
me- + sapu= menyapu
Berbeda dengan me- + kritik= mengkritik. Kata dasarnya tidak lebur karena huruf keduanya adalah huruf konsonan (r).

2. Imbuhan me-kan
a. benefaktif (melakukan pekerjaan untuk orang lain): membelikan, menjualkan, membukakan
b. kausatif (membuat jadi): meninggikan, melebarkan
c. menganggap sebagai: mendewakan, menganaktirikan

3. Imbuhan me-i
a. benefaktif: menghadiahi, menganugrahi
b. kausatif: membasahi, melukai
c. frekuentatif (melakukan tindakan berulang-ulang): mencabuti, memukuli

4. Imbuhan pe- 
a. pekerjaan: pengusaha, penyanyi
b. pelaku: pembaca, pendaki
c. penyebab: pemanis, peninggi
d. alat: penggaris, penghapus

5. Imbuhan per-an
a. proses: pertumbuhan, perluasan
b. tempat: permukiman, perhentian
c. hal: percintaan, perdagangan
d. hasil: persatuan, perdamaian
e. kumpulan: perumahan, perbukitan

6.Imbuhan pe-an
a. proses: pemukiman, pemberontakan, penanaman
b. tempat: pelabuhan, pemandian
c. hal: pelayanan, pelanggaran

7. Imbuhan ber- 
a. mempunyai: beratap, beranak
b. menggunakan: bersepeda, berbaju
c. mengeluarkan: berbau, bertelur
d. menunjukkan sikap mental: berbahagia, bersedih

Kaidah imbuhan ber-
a. Jika diikuti kata dasar yang berawalan huruf r atau bersuku kata er, imbuhan ber- akan menjadi be-
Contoh: ber- + rambut= berambut
               ber- + kerja= bekerja
b. Jika diikuti kata dasar ajar, ber- akan menjadi bel-
Contoh: ber- + ajar= belajar

8. Imbuhan ter- 
a. paling/superlatif: terpandai, tercantik
b. tidak sengaja: tertidur, terbawa
c. tiba-tiba: terjatuh, terhenti
d. dapat/telah: tertempel, terbuka

9. Imbuhan ke-an
a. intensitas (terlalu): kemahalan, kejauhan
b. keadaan: kedinginan, kekeringan
c. agak: kemerah-merahan, keinggris-inggrisan

|

Copyright © 2009 Alunan Tinta Biru All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.