0

AKTE KELAHIRAN

Posted by Alinda on 8:24 PM in

Aku masih menunggu. Pikiranku mengelana, mengira-ngira apa yang terjadi sebenarnya. Sekali lagi ku tengok jam dinding di ruang tamu. Sejak pukul empat sore tadi Roy pergi menemui ayah tirinya di Surakarta. Tapi sampai detik ini juga tak ada tanda-tanda kedatangannya. Jam menunjukkan angka 23.00 WIB.
Demikian pula nenekku, berulang kali dia menanyakan kepulangan Roy. Jawabanku tetap saja sama, “Belum, Mbah.”
Aku mengecek ponselku. Pesan yang kutulis sudah terkirim tapi belum ada balasan. Aku pun menelponnya. Tak diangkat. Kucoba sekali lagi. Mailbox yang menjawab.
Kemarin sore ibuku sudah mengingatkan Roy untuk pergi besok sore. Ayah juga, bahkan menyuruh Mas Surya untuk menemani Roy. Beliau khawatir dengan keselamatan Roy yang  suka naik motor ugal-ugalan. Apalagi untuk perjalanan cukup jauh bagi anak laki-laki usia 16 tahun, Yogyakarta-Surakarta. KTP pun belum punya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada operasi lalu-lintas di jalan?
Roy dengan keras menolak saran ayah dan ibuku. Entah apa yang dipikirkannya. Entah dengan siapa dia pergi. Tidak ada yang melihat kepergiannya. Tanpa pamit. Hanya sebuah SMS yang ia kirimkan kepadaku.
Mbak, aku berangkat ke Surakarta menemui bapak.
Ponselku berdering, ada sms masuk. Ternyata dari ibu Roy.
Anakku sudah pulang belum, Yan?
Kemudian kubalas,
belum.
Aku sudah terlampau resah. Bukan karena motorku yang dibawa, tapi karena tidak biasanya Roy pergi selama ini. Selain itu tempat tujuannya adalah mantan ayah tirinya. Ayah yang dulu kerap memukulnya dan ibunya. Aku kesal, mengapa bukan ibunya yang mengambil akte kelahiran Rian? Mengapa harus Roy?
Semenjak perceraian kedua orangtuanya, Roy dan adiknya, Rian, tinggal serumah denganku. Perceraian membuat ibu mereka harus bekerja di luar kota. Aku tak kuasa menolak, tak tega melihat Rian yang waktu itu masih berumur lima tahun harus berpisah dengan kedua orang tuanya.
Jadilah mereka adik angkatku. Sebisa mungkin ayah dan ibuku merawat dan membiayai sekolah mereka. Sesekali ibu mereka mengirimkan uang untuk biaya sekolah dan keperluan lainnya. Aku, berusaha menjadi kakak yang baik untuk mereka. Walaupun hanya seminggu sekali aku bertemu mereka.
Tak terasa hari mulai pagi. Ternyata aku tertidur di sofa ruang tamu. Ayah membangunkan aku. Ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan, dan nenek masih ada di kamarnya.
“Roy sudah pulang, Pak?” tanyaku kepada ayah sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00 WIB.
“Belum. Kamu mandi dulu sana. Ibu sedang menyiapkan sarapan untuk kita.”
Aku tidak menjawab pertanyaan ayah. Langsung saja kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Badanku rasanya sakit semua.
“Kenapa Roy belum juga pulang? Sebenarnya dia kemana? Apa terjadi sesuatu dengannya?” nenek terus melontarkan pertanyaan. Dia sangat mengkhawatirkan cucu kesayangannya itu. “Yana, coba kamu hubungi lagi adikmu itu. Siapa tau sekarang sudah bisa.” perintah nenek begitu melihatku keluar dari kamar.
“Iya, Mbah.” aku langsung mengambil ponsel di kamar kemudian kutelpon Roy. Benar kata nenek, Roy bisa dihubungi lagi.
“Roy, kenapa belum pulang? Kami sangat mengkhawatirkanmu.”
“Maaf, Mbak. Semalam aku mau pulang tapi bapak tidak mengizinkan. Jadi aku menginap. Siang ini aku pulang. Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja di sini.”
“Aktenya bagaimana? Sudah kamu dapatkan?”
“Sudah.” Kemudian Roy menutup teleponku. Aku benar-benar kaget. Kenapa Roy menjadi aneh seperti ini?
Mbah, Roy akan pulang siang ini. Dia sudah mendapatkan akte kelahiran Rian.” kataku kepada nenek. Ayah dan Ibu juga mendengarkan ucapanku. Setidaknya mereka bisa lega setelah tahu keadaan Roy. Rian hanya termangu menatapku. Dia hanya diam.
Beberapa hari ini aku mulai suka mengenakan kaos tanpa lengan. Udara yang panas membuatku merasa gerah. Tidak ada setetes pun air yang turun dari langit. Hanya mendung yang menyiksa manusia-manusia bumi dengan udara panasnya.
Adzan sholat dhuhur di masjid menggema di komplek perumahan kami. Sejenak aku menikmati alunan muadzin yang menenangkan hati itu. Melalui jendela, kulihat bapak-bapak dan ibu-ibu yang tergopoh-gopoh menuju masjid. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Sampai iqamah diserukan, tak ada satu pemuda pun yang datang ke masjid. Miris sekali. Aku malu pada orang-orang tua itu. Malu pada diri sendiri.
Selesai melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dengan satu keluarga di rumah, aku mencoba mencari udara segar di belakang rumah. Inilah tempat favoritku. Tempat biasanya aku merenung atau membaca buku. Angin segar kerap kudapatkan disini.
Samar-samar kudengar suara motor yang tak asing bagiku. Ya, aku yakin sekali itu motorku. Aku berlari ke depan rumah. Ternyata benar dugaanku. Roy pulang.
“Ayah, Ibu, Nenek, Roy pulang!” seruku.
Ayah, ibu, dan juga nenek segera datang ke depan rumah.
Wajah Roy nampak lesu. Akan tetapi dia berusaha memberikan senyumnya kepada kami.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”  jawab kami serempak.
“Masuk sini, Nak. Kami benar-benar khawatir menunggumu sepanjang hari.” ucap Ibu sambil menuntun Roy duduk di kursi ruang tamu kemudian pergi ke dapur mengambilkan segelas teh hangat untuk Roy.
“Maaf. Ayah melarangku pulang karena sudah malam.” jawab Roy.
“Lalu apakah akte kelahiran Rian diberikan?” tanya ayah kemudian.
“Ini aktenya.” jawab Roy sambil menyerahkan akte kelahiran Rian.
Ayah menerima akte kelahiran itu. “Akte kelahiranmu mana? Kamu ambil juga kan”
“Itu dia. Aku tidak bisa mengambil akte milikku sendiri. Ayah ingin aku tinggal bersamanya karena dia kini sebatang kara di rumahnya. Itu adalah syarat supaya aku bisa mendapatkan akte kelahiran Rian.”
Sejenak semuanya diam, tak ada yang menyangka kejadiannya akan seperti ini. Aku menoleh pada Rian yang duduk di sebelahku. Dia juga kaget. Semakin tidak mengerti.
“Jangan! Apa jadinya kalau kamu tinggal bersama ayah tirimu itu? Kamu bisa disiksa lagi.” Larang nenek memecah kesunyian.
“Tapi aku sudah berjanji. Ibu juga mengizinkan aku tinggal bersama ayah. Ayah bisa berubah Mbah. Besok pagi aku akan berangkat naik kereta.”
Roy langsung masuk ke dalam kamar. Tak ada yang melarang ataupun membantah ucapannya.
SELESAI

|

0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2009 Alunan Tinta Biru All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.