0
Maksud Kamu Apa, Zen?
Posted by Alinda
on
9:51 PM
in
Cerpen
Senja sore ini sangat indah sekali. Langit yang kemerah-merahan mengiringi kepergian sang mentari. Aku termangu memandangnya dari jendela. “Nanti malam pasti indah.” ucapku pelan. Tiba-tiba aku teringat Zen. Aku bergegas menelponnya.
“Zen, ntar malam bisa temenin aku liat bintang?” tanyaku dengan penuh harap.
“Lain waktu aja ya...nanti malam aku ada janji ma temen.” jawab Zen lembut.
“Oh...ya udah, ga papa. Kalau gitu aku ajak Ivan aja ya?” tanyaku meminta pendapat.
“Kenapa nggak nunggu aku ada waktu luang? tapi kalau kamu udah nggak sabar, terserah. Aku nggak berhak larang kamu pergi sama siapa aja.” jawab Zen terdengar ketus.
“Nada bicara kamu kok jadi berubah? Ya udah, liat bintangnya kalau kamu ada waktu luang aja.” tanpa mengucapkan kata pamit, kututup telepon itu.
Sudah kuduga Zen akan menolak lagi, ini adalah kesekian kalinya dia menolak ajakanku untuk melihat bintang. Banyak alasannya, ada janji ma temen, lagi ga enak badan, harus ngerjain tugas kuliah, de el el.
Namun, aku heran. Kenapa dia selalu ketus kalau aku bilang mau pergi sama cowok lain. Cemburukah?
***
Di bawah langit malam,
Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada teman, sendiri pun jadi. Aku tak bisa menahan langkahku untuk tidak keluar rumah. Rupanya ribuan bintang telah menantiku di atas sana. Bahkan bintang favoritku hampir tak kukenali.
Indah sekali malam ini. Beberapa rasi bintang nampak berlomba-lomba untuk menjadi yang paling terang. Aku tersenyum melihatnya. Seolah aku mengerti apa maksud mereka.
Maksud?? ya, selama ini aku merasa dipermainkan oleh maksud. Sebuah maksud dari sikap yang kurasa tak biasa. Bukan sikap seorang teman, tapi juga bukan sikap seorang kekasih. Aku tak mengerti apa yang dimaksud oleh teman baikku, Zen.
Perhatiannya padaku begitu berlebihan menurutku, bahkan tak sekali aku menerima kecupan dan pelukan darinya. Apalagi jika pikirannya sedang kacau. Dia akan datang padaku, dengan wajah muram yang selalu bisa kutebak.
“Sayang sekali, malam ini tak ada Zen di sampingku. Seandainya saja dia ikut melihat indahnya bintang malam ini.” ucapku lirih pada keheningan.
***
Pagi ini matahari bangun lebih awal. Baru jam setengah enam aja cerahnya udah kaya jam 10 pagi. Aku agak malas beranjak dari kasur. Tiba-tiba dering handphone memaksaku untuk membuka mata.
“Ada apa sih?! Ini belum ada jam 8. Kuliahnya kan masih jam 10 nanti.” ucapku nerocos begitu saja.
“Dasar cewek males! Pantes aja berat badan nggak mau turun. Bangun! Ayo lari pagi, aku dah di depan rumahmu.” jawab Zen yang kemudian langsung menutup telfonnya. Akhirnya dengan segenap tenaga kukumpulkan nyawaku untuk beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap lari pagi.
Zen sudah menungguku dengan gayanya yang sok keren, tapi memang iya sih. Kalau nggak keren nggak mungkin banyak cewek yang naksir dia. Namun, karena aku udah biasa deket ma dia, jadi ya...walaupun dia dandan ala gaya Korea pun bagiku tetep sama aja. Tetep kaya Zen yang mukanya standar di depanku. Hehe...
“Tumben ngajak lari pagi. Kangen ma aku ya? Hehe..” tanyaku di sela-sela kicauan burung yang mengiringi langkah kami.
“Bosen aja lari pagi sendirian. Tiba-tiba inget deh kalau kamu pengen diet. Jadi, sekalian aja. Hehehe..” jawab Zen yang bikin dahiku mengerenyit.
“Ha? perhatian banget..”
“Bukannya makasih udah diperhatiin malah pasang muka bego kaya gitu...Tiap hari kan aku juga perhatian ma kamu.” sahut Zen dengan nada agak tinggi.
“Haha...kamu perhatian? baru tau aku..” kataku agak meledek kemudian berlari lebih cepat.
“Dasar kamu ya....” Zen mulai mengejarku, berusaha menangkapku.
***
Suasana kampus cukup sepi. Mungkin karena sudah banyak mahasiswa yang pulang ke asalnya. Ujian memang sudah usai dan libur panjang sudah mulai berjalan. Aku sengaja ke kampus karena ingin melihat nilai dan informasi kampus. Siapa tau ada informasi penting.
Aku cukup kecewa dengan nilai ujianku semester ini. Gara-gara ada satu mata kuliah yang nilainya C, IPK-ku nggak jadi qumlaude. Mau tak mau tahun depan harus mengulang mata kuliah itu lagi. Hfft....
Tiba-tiba saja aku mendengar suara isakan tangis seorang wanita. Aku berusaha mencari sumber suara itu. Sepertinya dari arah kamar mandi. aku semakin mendekati suara itu.
“Veny! Kamu kenapa nangis??” aku terkejut melihat bunga kampus itu menangis terisak di kamar mandi sendirian.
“Ng..ngg..nggak kenapa-napa, Nda..” jawab Veny sambil terisak.
“Bohong! Bilang aja ma aku. Siapa yang udah bikin kamu nangis kaya gini.” ucapku setengah memaksa.
“Nggak, Nda. Aku nggak mau ngrusak persahabatanmu.” jawab Veny yang membuatku terkejut.
“Sahabat?” sejenak aku memikirkan siapa yang dimaksud Veny. “Apa Zen yang udah bikin kamu kaya gini?” tebakku karena di kampus ini hanya Zen yang paling dekat denganku.
Veny tidak langsung menjawab. Dia masih terisak dan menghapus air mata yang sepertinya tak mau berhenti mengaliri pipinya. Tak lama kemudian dia mengangguk pelan.
“Apa?!! Zen bersikap kurang ajar ma kamu?” tanyaku dengan muka setengah tak percaya.
“Nggak, Nda. Aku sakit hati ma dia karena dia nolak cintaku lagi. Aku kurang apa sih? Di kampus ini banyak cowok yang ngejar-ngejar aku. Tapi, nggak ada satu pun yang aku terima. Aku cuma mau dia, Nda. Cuma Zen!” jawab Veny.
Aku lega mendengar penjelasan Veny. Entah karena Zen tidak bertindak kurang ajar atau karena Zen menolak cinta Veny, aku sendiri tidak tahu. Intinya aku nggak perlu khawatir lagi.
Aku sangat mengenal Zen. Zen tidak akan menyukai tipe cewek seperti Veny, sombong dan manja. Maklum, Veny anak tunggal dari keluarga konglomerat. Orangtuanya menjadi salah satu donatur di kampus ini. Jadi, tak heran jika dia seperti penguasa kampus. Apa yang dia inginkan, dia akan berusaha untuk mendapatkan orang itu dengan berbagai cara.
***
“Kaya, cantik, berkuasa, jadi incaran banyak cowok. Kenapa ditolak?” tanyaku pada Zen yang sedang asyik mendrible bola basket di depan ring.
“Tau dari mana?” tanya Zen sambil bersiap-siap menembak bola ke ring.
“Nggak penting, jawab aja.” sahutku dengan muka menyelidik. Seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tahanannya. mataku tak lepas dari wajahnya yang serius pada bola dan ring.
“Aku nggak mau punya cewek kaya dia. Bisa stress aku dengan sifatnya yang manja itu. Kekanak-kanakan.” jawabnya kemudian tersenyum saat tembakannya berhasil masuk ring.
“Emang kamu pengen cewek yang gimana? udah lama lho kamu nyandang status jomblo.” tanyaku kemudian
“Selama ada kamu di sisiku bagiku nggak masalah.” jawab Zen sambil terus menembakkan bola ke dalam ring.
“Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?” tanyaku penasaran.
“Kamu udah tau maksudku kok.” jawab Zen enteng.
“Zen, sampai kapan kamu akan begini? Kamu selalu bikin aku nggak ngerti dengan semua sikapmu ke aku. Aku tau kita sahabat, tapi aku merasa sikapmu ke aku ini lebih dari itu.” tanyaku lagi. Aku semakin tak mampu menahan pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama melekat di pikiranku.
Zen membiarkan bola basketnya jatuh di lantai. Dia menatap tajam ke arahku. Semilir angin menyibak rambutnya yang menutup sebagian matanya. Zen diam, membiarkan angin berbicara.
“Aku juga ingin bertanya, kenapa kamu selalu ada untukku? Tak pernah membiarkan aku kesepian dan terlarut pada masa laluku. Kenapa kamu hanya diam saat kupeluk dan kucium? Kenapa kamu sangat percaya padaku?” jawab Zen dengan segudang pertanyaan yang memojokkan aku.
“Kenapa justru balik bertanya?” tanyaku kemudian.
“Sebelum menjawab pertanyaanmu aku ingin mendengar jawabanmu. Agar aku tau apa yang sebaiknya ku katakan padamu. Tak hanya kamu yang memendam berbagai pertanyaan selama ini, tapi aku juga.” jawab Zen membuat emosiku semakin tak terkendali.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Zen? Kamu ingin aku mengutarakan perasaanku? Oke. Memang benar, aku menyukaimu sejak pertama kita jumpa. Aku menyayangimu sejak kau melindungiku dan aku mencintaimu sejak kau katakan bahwa aku selalu berarti untukmu, sejak kau perhatikan aku, sejak kita bersama dalam satu waktu, sejak kau cemburu saat aku dekat dengan pria lain.” ucapku lantang dengan tatapan tajam ke arah Zen.
“Setelah kau mendengar semua ini apa kamu hanya akan diam? Mempermalukan aku dengan tatapan kosongmu?” seketika emosi Nanda memuncak. Ia tak mampu menahan air matanya yang mengalir begitu saja.
Zen terdiam mendengar pengakuan Nanda. Apa yang ingin ia katakan, berhenti begitu saja. Sorot matanya tak setajam saat dia melontarkan seluruh pertanyaannya.
“Maafkan aku.” Zen tak mampu menahan pandangannya lagi. Ia menunduk, tak bergeming dari tempatnya menginjakkan kaki.
“Sudah kuduga. Kau akan terus begini. Tenggelam pada keraguan dan masa lalumu.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura bodoh! Kau tau apa yang kumaksud!” Nanda segera berlari menjauh dari hadapan Zen. Zen mengikuti kepergian Nanda dengan pandangannya.
“Aku juga mencintamu Ariesthin Arnanda.” ucap Zen lirih. Matanya terus menatap sosok Nanda yang semakin menjauh.
SELESAI

Post a Comment