0
Sosiologi Sastra
Analisis
Sosiologi Pengarang “ Djenar Maesa Ayu”
Berdasarkan
Teori Wellek dan Warren
1.
Status
Sosial Pengarang
Cerpenis asal
Jakarta ini merupakan anak tunggal dari Syuman Djaya, sutradara film dan Tuti
Kirana, aktris terkenal tahun 1970-an. Saat berumur 15 tahun dia sudah mulai
bekerja hingga lulus SMA. Bagi
Djenar, pendidikan hanyalah sebagai formalitas. Kini. dalam kesehariannya, Djenar adalah
seorang ibu muda, beranak dua, berdaster batik ria saat di rumah, memasak,
membersihkan rumah berlantai tiga dan mengurus anak-anaknya. Dia tidak memiliki
pembantu meski tinggal di rumah gedongan pinggiran Jakarta Barat.
2.
Ideologi
Sosial Pengarang
Karya Djenar
yang terbit selalu disertai kontroversi, pujian, dan kritikan pedas. Namun ia
tetap berani dalam mengekspresikan tulisannya. Djenar berpendapat bahwa setiap
pembaca pasti membutuhkan diskusi tentang hal-hal yang selama ini selalu
dianggap tabu. Kedua orang tuanya sangat terbuka dan membebaskan ia untuk
kritis, berani bicara pelbagai hal, termasuk seks. Bilamana dalam
karya-karyanya ia mengusung persoalan seks, ini terjadi karena dalam dirinya
seks bukan sesuatu yang “mewah”. Naluri seksual baginya adalah sesuatu yang
amat alamiah dan perlu. Ditilik secara medis pun, diakui bahwa seks dibutuhkan
oleh metabolisme tubuh. Baginya, pemahaman seks bebas bukanlah sekadar seks di
luar nikah.
3.
Latar
Budaya Sosial Pengarang
Hidup di kota
Jakarta memang membawa pengaruh bagi Djenar. Terutama saat ayahnya meninggal.
Kesendirian membawanya terseret pergaulan bebas. Merokok dan minum alkohol
adalah kebiasaannya sampai saat ini.
Kiprahnya dalam dunia akting
membawanya naik daun. Pada awalnya dia tidak terlalu
pandai menulis, tapi kemudian ketika Djenar memulai kiprahnya di dunia
kepenulisan, ia bertemu sejumlah sastrawan Indonesia yang dijadikan guru
penulisnya, seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, dan Sutardji Coulzum
Bachri.
4.
Posisi
Sosial Pengarang dalam Masyarakat
Karya-karya Djenar
yang mengangkat tema hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat membawa
pengaruh dalam kehidupannya. Banyak orang yang menganggap karya-karya Djenar
adalah biografi dirinya. Tentu saja hal itu tidak dibenarkan oleh Djenar.
Djenar adalah sosok yang pendiam, menyukai ketenangan, dan penyendiri.
5.
Masyarakat
Pembaca yang Dituju
Karya-karya
Djenar lebih diarahkan untuk usia di atas 17 tahun. Bahasa yang ia gunakan
mudah dipahami dan seringkali menggunakan bahasa gaul dan vulgar. Karya yang ia hasilkan merupakan apa yang ia amati
di lingkungan sekitarnya. Dia sangat peduli terhadap kaum wanita. Kepeduliannya
terhadap kaum wanita yang kerap dilecehkan dapat dirasakan disetiap karya yang
ia tuliskan.
6.
Mata
Pencaharian Sastrawan
Djenar Maesa Ayu
adalah seorang penulis berbakat yang juga merambah dunia seni peran. Perempuan
yang akrab disapa Djenar ini mewarisi bakat seninya dari kedua orang tuanya. Saat
Djenar masih kecil, ia sering diajak orang tuanya ke lokasi syuting.
Kepandaiannya berakting berhasil membawa penghargaan sebagai nominator artis
pendatang baru terbaik sekaligus artis terfavorit versi Indonesia Movie Award
2007 dan nominator pemeran pembantu terbaik di Festival Film Bandung 2008. Saat
ini, selain mmenjadi ibu rumah tangga, ia juga menjadi penulis skenario film.
7.
Profesionalisme
dalam Kepengarangan
Berbicara mengenai
profesionalitas Djenar Maesa Ayu, tentu sudah tidak diragukan lagi. Meskipun
sibuk mengurusi rumah tangga, Djenar tetap menulis. Selain menulis buku, dia
juga menulis skenario film sekaligus menjadi sutradaranya. Dia juga membintangi
beberapa film dari tahun 1990 sampai 2011.
Biografi
Djenar Maesa Ayu
Djenar
Maesa Ayu adalah anak tunggal dari sutradara kondang Syuman Djaja dan artis
terkenal Tuti Kirana. Perempuan kelahira Jakarta, 14 Januari 1973 ini lebih
suka menyebut dirinya sebagai ibu rumah tangga. Di sela-sela kegiatannya
membesarkan dua anaknya, Banyu Bening dan Btari Maharani, Djenar mulai
menggeluti dua kesusastraan, khususnya penulisan cerpen.
Djenar memulai menggeluti menulis dengan
menemui sejumlah sastrawan yang dijadikannya sebagai guru. Mereka itu adalah
Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri. Karya
Djenar banyak mendapat kritik dan pujian karena kontroversi. Namun, baginya,
hal itu tidak memengaruhi kreativitasnya. Ia tetap menulis apa yang ingin
diekspresikannya. Salah satu ciri karyanya adalah temanya dunia perempuan dan
seksualitas. Karya pertamanya adalah cerpen “Lintah” (2002) yang bertema
feminisme dan dimuat di Kompas.
Karyanya, terutama cerpen, tersebar di
berbagai media massa Indonesia, seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika,
Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan Lampung Post. Buku pertama Djenar
berupa kumpulan cerpen yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! (2004). Buku
itu telah dicetak ulang delapan kali dan masuk dalam sepuluh buku terbaik
Khatulistiwa Literary Award 2003. Buku itu diterbitkan dalam bahasa
Inggris. Kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) juga
mendapat penghargaan lima besar Khatulistiwa Literary Award 2004. Cerpennya
“Waktu Nayla” mendapat predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan
bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas.
Cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik
2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh. ke dalam bahasa
Inggris dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat dalam Jurnal Perempuan
versi bahasa Inggris khusus edisi karya terbaik.
Selain menulis, Djenar juga menggeluti
bidang perfilman, yaitu sebagai pemain dan sutradara. Ia membintangi film
Boneka dari Indiana (1990), Koper (2006), Anak-Anak Borobudur (2007), Cinta
Setaman (2008), Dikejar Setan (2009), Melodi (2010), dan Purple Love (2011)
dan menjadi sutradara film Mereka Bilang, Saya Monyet, SAIA (2009)
serta sutradara TV dalam acara “Fenomena” (TransTV, 2006) dan “Silat
Lidah” (AnTV, 2007). Ia mendapat Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film
Mereka Bilang, Saya Monyet!
KARYA:
1.
Novel
Nayla (2005)
Nayla (2005)
2.
Kumpulan Cerita Pendek
a.
Mereka Bilang, Saya
Monyet! (2002)
b.
Jangan Main-Main
(dengan Kelaminmu) (2004)
c.
Cerota Pendek
tentang Cerita Pendek (2006)
d.
Perempuan dan 14
Laki-Laki (2011)
3.
Sutradara/Penulis/Skenario
a.
“Fenomena” (TransTV,
2006)
b.
“Silat Lidah” (AnTV,
2007)
c.
SAIA (2009)
d.
Mereka Bilang, Saya
Monyet
4.
Film yang Dibintangi
a.
Boneka dari Indiana
(1990)
b.
Koper (2006)
c.
Anak-Anak Borobudur
(2007)
d.
Cinta Setaman (2008)
e.
Dikejar Setan (2009)
f.
Melodi (2010)
g.
Purple Love (2011)
PENGHARGAAN:
1. Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
2. Sepuluh besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk bukunya Mereka Bilang, Saya Monyet!
3. Cerpen Tetrbaik Kompas 2003 untuk cerpennya “ Waktu Nayla”
4. Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan untuk cerpennya “Menyusu Ayah”
5. Lima besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
1. Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
2. Sepuluh besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk bukunya Mereka Bilang, Saya Monyet!
3. Cerpen Tetrbaik Kompas 2003 untuk cerpennya “ Waktu Nayla”
4. Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan untuk cerpennya “Menyusu Ayah”
5. Lima besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
REFERENSI
Herlambang,
Rustika. 2009. Djenar Maesa Ayu:
Kepompong Kenyaman. Diunduh dari http://rustikaherlambang.wordpress.com/2009/02/28/djenar-maesa-ayu/, 9 Oktober 2012
pukul 12.33.
____. 2003. Waktu Nayla, Cerpen Pilihan Kompas 2003. Jakarta: Buku Kompas 2003.
___. 2012. Djenar Maesa Ayu. Diunduh dari http://profil.merdeka.com/indonesia/d/djenar-maesa-ayu/, 9 Oktober 2012
pukul 12.35
