0

Puisi Lama

Posted by Alinda on 7:37 PM in
Puisi lama memiliki ciri khas tertentu, seperti persamaan sajak dan larik. Ada beberapa jenis puisi lama.
1. Pantun
Pantun merupakan puisi lama yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Tiap baris terdiri dari 6-8 suku kata
b. Setiap bait bersajak a b a b
c. Satu bait terdiri dari 4 baris
d. Baris 1 dan 2 disebut sampiran
e. Baris 3 dan 4 disebut isi
Contoh:
Raja gagah lagi sakti
Laksamana pergi berperang
Supaya tidak sesal di hati
Janganlah kena perdaya orang

2. Karmina
Karmina seringkali disebut pantun kilat. Ciri-ciri karmina adalah sebagai berikut.
a. Terdiri dari dua baris. Baris pertama sampiran, baris ke dua adalah isi.
b. Bersajak a a
Contoh:
Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senanglah hati

3. Gurindam
Gurindam mirip dengan karmina. Ciri-cirinya sebagai berikut. 
a. Terdiri dari dua baris. Baris pertama menyatakan sebab. Baris kedua menyatakan akibat. 
b. Bersajak a a

Contoh: 
Percuma jadi orang berharta
Kalau tidak beramal pada sesama

4. Syair
Syair biasanya terdiri dari beberapa bait. Karena berisi kisah atau cerita. Ciri-cirinya sebagai berikut. 
a. Satu bait terdiri dari empat baris. Semua baris adalah isi. 
b. Bersajak a a a a

Contoh:
Sahabat sejati itu abadi
Tak perlu lagi aku cari
Andai kita tak bersua lagi
Alangkah hancurnya hati ini

Selain keempat jenis puisi lama di atas, ada juga talibun, mantra, dan seloka. 

5. Talibun
Prinsip talibun sama halnya dengan pantun, dengan ciri-ciri sebagai berikut. 
a. Setiap bait terdiri lebih dari 4 kata, yang penting jumlah barisnya harus genap. Misalnya ada 6 baris, berarti baris 1-3 sampiran, baris 4-6 adalah isi. 
b. Sajaknya pun mengikuti jumlah baris. Jika jumlah barisnya 6, maka sajaknya a b c a b c

6. Mantra
Tidak ada ciri khusus untuk mantra. Jenis puisi sudah asa sejak zaman nenek moyang. Mantra dipercaya dapat menimbulkan efek gaib. Sehingga pengucapan katanya ada beberapa bagian yang diulang dengan irama tertentu. 

7. Seloka
Jenis puisi ini sering disebut puisi bertaut atau puisi berulang. Hal ini karena adanya baris yang diulang pada bait berikutnya. Ciri-cirinya mirip dengan pantun. 
a. Terdiri dari 4 baris.
b. Baris 1 dan 2 adalah sampiran.
c. Baris 3 dan 4 adalah isi. 
Agar lebih jelas, perhatikan contoh berikut!

Ada duri dalam buah durian
Duriannya dimasukin ke keranjang
Segenggam cinta kulayangkan
Hanya untukmu sayangku seorang

Duriannya dimasukin ke keranjang
Keranjangnya warna merah bata
Hanya untukmu sayangku seorang
Senyum manismu buatku semakin cinta

Itu tadi beberapa jenis puisi lama. Semoga bermanfaat! 

|
0

Makna Kata

Posted by Alinda on 6:19 PM in
Setiap kata memiliki makna kata, baik makna sebenarnya maupun tidak sebenarnya. Secara garus besar, makna kata dibedakan menjadi empat. Berikut penjelasannya.
1. Makna Leksikal
Makna leksikal merupakan makna asli atau makna sesuai dengan Kamus Bahasa Indonesia. 
Contoh: mata adalah salah satu indera yang digunakan untuk melihat. 

2. Makna Gramatikal
Makna gramatikal merupakan turunan dari makna leksikal. Sebuah kata dapat memiliki makna gramatikal jika mengalami hal berikut. 
a. Mendapatkan imbuhan atau afiks
b. Menjadi kata majemuk atau frasa
c. Menjadi kata ulang
Contoh: bermata: memiliki mata
               Mata pencaharian: pekerjaan

3. Makna Denotatif
Makna denotatif merupakan makna sebenarnya. 
Contoh: meja hijau: meja yang berwarna hijau. 

4. Makna Konotatif
Makna konotatif merupakan makna kias atau makna tak sebenarnya. 
Contoh: meja hijau: pengadilan
 
Itu tadi penjelasan singkat tentang makna kata. Semoga bermanfaat. 

|
0

Penalaran Umum (Logika)

Posted by Alinda on 1:33 AM in
Penalaran umum merupakan salah satu jenis tes yang menggunakan dasar berpikir secara logika. Dalam tes ini terdapat pernyataan benar, pernyataan salah, dan bagaimana menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan tersebut. Kali ini saya akan menjelaskan sedikit materi penalaran umum yang biasa digunakan pada soal-soal TPS Verba.

A. Pernyataan
Pernyataan disebut juga implikasi. Ada dua jenis pernyataan, yaitu benar dan salah. Penentuan benar atau salahnya berdasarkan kenyataan aslinya.
Contoh:
Ayam adalah salah satu jenis unggas. (benar)
Kerbau adalah jenis hewan karnivora. (salah)

Negasi atau ingkaran merupakan lawan kata dari pernyataan semula. Biasanya ditandai dengan  kata tidak, bukan.
Contoh: 
p= Kami belajar.
~p= Kami tidak belajar.
 
B. Pernyataan Majemuk
Pernyataan majemuk adalah kalimat yang dibentuk oleh beberapa pernyataan, bisa dua atau lebih. Pernyataan majemuk ditandai dengan kata jika..., maka...,...dan ...., ....atau....
Terdapat empat istilah dalam pernyataan majemuk.
1. Disjungsi
Disjungsi ditandai dengan kata hubung atau. Secara matematis ditulis p v q (p atau q).
Contoh:
p= Tina suka warna biru.
q= Tina suka warna putih.
p v q = Tina suka warna biru atau putih. 

Bentuk ingkaran disjungsi sebagai berikut.
~(p v q)= ~p ^ ~q
Contoh:
p v q = Tina suka warna biru atau putih. 
~p ^ ~q = Tina tidak suka warna biru dan putih.

2. Konjungsi
Konjungsi ditandai dengan kata hubung dan. Secara matematis ditulis p ^ q (p dan q).
Contoh: 
p= Lala membeli boneka.
q= Lala membeli sepatu.
p ^ q = Lala membeli boneka dan sepatu.

Bentuk ingkaran konjungsi adalah sebagai berikut.
~(p ^ q)= ~p v ~q
Contoh: 
p ^ q = Lala membeli boneka dan sepatu.
~p v ~q= Lala tidak membeli boneka atau sepatu.

3. Implikasi
Implikasi adalah jenis pernyataan sebab akibat yang ditandai dengan kata jika..., maka....Secara matematis ditulis p => q.
p adalah sebab dan q adalah akibat.
Jenis implikasi ada tiga macam.
a. Konvers/bentuk lain p => q adalah q => p.
b. Invers/kebalikan p => q  adalah ~p => ~q 
c. Kontraposisi p => q  adalah ~q => ~p

Bentuk ingkaran dari p => q ekuivalen dengan p ^ ~q
Contoh: 
p= Yeni libur sekolah.
q= Yeni pergi ke Madiun.
~(p => q) = p ^ ~q
p ^ ~q = Yeni libur sekolah dan tidak pergi ke Madiun.

4. Biimplikasi
Biimplikasi adalah jenis pernyataan majemuk yang menggunakan kata hubung "jika dan hanya jika". Secara matematis dilambangkan p <-> q.
Contoh:
p= Koko membeli mobil baru.
q= Koko memiliki pekerjaan baru.
 p <-> q = Koko membeli mobil baru jika dan hanya jika memiliki pekerjaan baru.

C. Penarikan Simpulan
Penarikan simpulan bisa menggunakan metode silogisme, modus ponens, dan modus tolens.
1. Silogisme
Silogisme merupakan penarikan simpulan dari dua pernyataan implikasi. Aturan silogisme adalah sebagai berikut.
Premis 1: p => q
Premis 2: q => r
Simpulan: p => r
(pernyataan yang sama dicoret)

Perhatikan contoh dalam kalimat berikut.
P1: Jika warga menjaga kebersihan (p) maka warga sehat (q)
P2: Jika warga sehat (q) maka pemerintah bangga (r).
Simpulan: Jika warga menjaga kebersihan maka pemerintah bangga.

2. Modus Ponens
Aturan modus ponens adalah sebagai berikut.
Premis 1: p => q
Premis 2: p
Simpulan: q

Contoh:
P1: Jika hari Senin libur (p), saya pergi ke rumah nenek (q).
P2: Hari ini libur (p).
Simpulan: Saya pergi ke rumah nenek
(Bentuk p harus sama)

3. Modus Tolens
Aturan modus tolens adalah sebagai berikut.
Premis 1: p => q
Premis 2: ~q
Simpulan: ~p
Contoh: 
P1: Jika hari Senin libur (p), saya pergi ke rumah nenek (q).
P2: Saya tidak pergi ke rumah nenek (~q).
Simpulan: Hari Senin tidak libur.

D. Ekuivalensi Logika
Suatu pernyataan dikatakan ekuivalen apabila dua pernyataan tersebut memiliki nilai kebenaran yang sama. Ada banyak hukum ekuivalen, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
p => q ≡ ~p v q
p => q ≡ ~q => ~p
p v q ≡ ~p => q

Hukum De Morgan
~(p ^ q) ≡ ~p v ~q
~ (p v q) ≡ ~p ^ ~q

Contoh Soal

P1: Jika pohon diberi pupuk maka pohon tersebut akan berbuah banyak.

P2: Jika pohon berbuah banyak maka penjualan buah akan meningkat.

P3: Penjualan buah mengalami penurunan.

Simpulan yang tepat adalah...

a. Penjualan buah menurun.

b. Penjualan buah meningkat.

c. Pohon tidak diberi pupuk.

d. Pohon diberi pupuk.

e. Pembeli tidak membeli buah apapun.

Pembahasan:

Langkah 1: gunakan metode silogisme

 p => q       : Jika pohon diberi pupuk maka pohon tersebut akan berbuah banyak.

P2: q => r        : Jika pohon berbuah banyak maka penjualan buah akan meningkat.

S1: p => r          : Jika pohon diberi pupuk maka penjualan buah akan meningkat.

Langkah 2: gunakan metode tolens

S1: p => r          : Jika pohon diberi pupuk maka penjualan buah akan meningkat.

P3: ~r             : Penjualan buah mengalami penurunan

S2: ~p               : Pohon tidak diberi pupuk

Jawaban: C

Demikian pembahasan materi penalaran umum. Semoga bermanfaat ya...


|
0

Kalimat Efektif

Posted by Alinda on 10:49 PM in
Kalimat efektif adalah salah satu jenis kalimat yang baku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kalimat efektif disebut juga kalimatbaku. Ciri-ciri kalimat efektif adalah sebagai berikut.
1. Memiliki subjek dan predikat
Subjek dan predikat merupakan unsur penting dalam kalimat. Jika kalimat tidak memiliki salah satunya, kalimat tersebut tidak efektif.
Contoh: Pada artikel menjelaskan kenaikan harga sembako.
                         K                   P                   O
Kalimat tersebut tidak efektif karena tidak memiliki subjek. Agar efektif, kita dapat menghilangkan kata pada sehingga kata artikel menjadi subjek.

2. Ejaan sesuai PUEBI
Penggunaan tanda baca, huruf kapital, huruf miring, dan juga angka harus sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Contoh: Kami bangun kesiangan, sehingga terlambat masuk sekolah. (tidak efektif)
Kami bangun kesiangan sehingga terlambat masuk sekolah. (efektif)

3.Menggunakan kata baku
Kata baku adalah kata yang penulisannya sudah benar, sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Contoh:
Tidak Baku                              Baku
lembab                                     lembap
standarisasi                            standardisasi
kwitansi                                   kuitansi
aksesoris                                aksesori
ekstrim                                    ekstrem

4. Kalimat hemat dan logis
Kalimat efektif tidak bertele-tele dan sesuai akal/logika.
Contoh:
a. Mukanya agak kemerah-merahan. (tidak baku)
Mukanya kemerah-merahan. (baku)
b. Bagi yang membawa HP harap dimatikan. (tidak baku)
HP harap dimatikan. (baku)

5. Imbuhan paralel
Pada kalimat majemuk yang mengandung rincian, imbuhan yang digunakan harus paralel/sejajar.
Contoh:
Maryam hobi menari dan bernyanyi. (tidak baku).
Maryam hobi menari dan menyanyi. (baku)
Imbuhan yang digunakan sama-sama imbuhan me-.

Demikian materi kalimat efektif. Semoga bermanfaat.

|
0

Jenis Kalimat Bagian 2

Posted by Alinda on 3:32 PM in
Pada postingan sebelumnya kita telah membahas tiga jenis kalimat. Sekarang kita lanjutkan materi sebelumnya ya....

A. Berdasarkan Jenis Kata Predikat
1. Kalimat Verbal
Kalimat verbal menggunakan predikat berjenis kata kerja.
Contoh: Kakak membeli bakso.
2. Kalimat Nominal
Kalimat yang menggunakan predikat selain kata kerja disebut kalimat nominal
Contoh: Dia seorang peragawati. (P=kata benda)
               Ayamku sepuluh ekor. (P=kata bilangan)
               Dia sangat baik. (P=kata sifat)

B. Berdasarkan Jumlah Unsur Kalimat
1. Kalimat Inti
Kalimat inti terdiri atas dua unsur, yaitu subjek dan predikat, boleh juga ada objek. Namun, setiap unsur hanya terdiri atas satu kata.
Ciri-ciri:
a. Terdiri atas inti subjek dan predikat
b. Bukan kalimat inversi (urutan normal SP)
c. Kalimat berintonasi normal (kalimat berita)
Cara menentukan kalimat inti, yaitu dengan menghilangkan unsur keterangan yang biasanya ditandai dengan kata hubung atau kata depan.
Contoh: 
1) Mereka yang mendaftar lomba akan mengikuti seleksi besok pagi.
Kalimat inti: Mereka mengikuti seleksi.
                            S              P             O
2) Wanita yang  akan pergi ke bandara telah berangkat tadi pagi.
Kalimat inti: Wanita berangkat.
                            S             P

2. Kalimat Transformasi
Kalimat transformasi adalah perluasan dari kalimat inti. Ada beberapa cara mengembangkan kalimat inti.
a. Mengubah letak kalimat.
Contoh: Kami berjualan di pasar.
              Berjualan kami di pasar. (kalimat inversi)
b. Menambah unsur kalimat.
Contoh: Temanku bermain.
               Temanku bermain layang-layang.
c. Mengubah intonasi kalimat.
Contoh: Jeni pergi.
               Jeni pergi?
 d. Menjadikan kalimat majemuk
 Contoh: Adik tertawa.
               Adik tertawa ketika melihatku terpeleset.

C. Berdasarkan Jumlah Klausa
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal memiliki satu klausa.
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk memiliki lebih dari satu klausa.

Pembahasan tentang kalimat tunggal dan majemuk lebih lengkapnya, silakan teman-teman baca di postingan saya sebelumnya di link berikut.

Terima kasih..

|

Copyright © 2009 Alunan Tinta Biru All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.